[Serba-Serbi SPERMA] Pria Mandul PUNYA HARAPAN Dapat SPERMA BAGUS

Sudah lebih dari enam tahun usia perkawinan Rahman dan Tina.
Namun, mereka tak kunjung dikaruniai seorang anak pun.

Berbagai usaha, baik medis maupun tradisional, sudah dilakukan demi memperoleh keturunan. Tapi tanda-tanda mendapatkan keturunan belum juga terlihat. Mengapa bisa begitu?

Pasangan Rahman dan Tina hanya satu dari ribuan bahkan jutaan pasangan di dunia ini yang mengalami kesulitan dalam reproduksi. Kenyataannya, perempuan sering menjadi pihak yang dipersalahkan kalau dalam beberapa tahun perkawinan pasangan itu belum juga punya keturunan. Padahal pihak pria perlu juga dipertanyakan kesuburannya.

”Pemikiran itu mayoritas tumbuh di negara-negara Asia, di mana patrilinial masih begitu kuat,” ujar Dr. Andi Kosasih, spesialis kandungan Rumah Sakit Bersalin Mitra Ibu Anak, ”padahal tak menutup kemungkinan ketidaksuburan justru ada di pihak pria.”

Sementara di banyak negara Amerika dan Eropa pemeriksaan kesuburan kerap dilakukan sebelum perkawinan terhadap pihak pria dan wanita. Bahkan kadang baru dilakukan jika pasangan tersebut sudah memutuskan benar-benar ingin punya anak. Dan jika terdeteksi kelainan terletak pada pihak pria maka mereka tidak ragu untuk bersama-sama mengatasinya.
”Tapi sesuai dengan perkembangan zaman, kini di Indonesia juga sudah mulai tumbuh kesadaran para suami untuk memeriksakan kesuburannya,” kata Andi, walau dirinya tak menolak kenyataan masih banyaknya pria yang bersikap egois dan menyalahkan pihak perempuan.

Kesalahan Standar
Masalah ketidaksuburan pria umumnya terletak pada kualitas sperma yang dimilikinya. Biasanya kualitas sperma ini bisa dilihat dari jumlah sperma yang terkandung dalam cairan sperma. Dokter berpegang pada standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO) untuk menghitung tingkat kesuburan sperma tersebut. Tapi baru-baru ini hasil riset di Amerika Serikat menyebutkan, kendati seorang pria mempunyai tingkat kesuburan sperma lebih rendah dari standar WHO, tetap saja bisa mendapatkan keturunan.

”Tes yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kesuburan pria biasanya memang dilakukan dengan menganalisis jumlah sperma di dalam semen (cairan sperma). Semakin banyak kandungan sperma dalam semen, semakin baik tingkat kesuburannya. Dan sperma itu sendiri ada yang bergerak, ada pula yang bersifat statis,” ujar Andi.
Dokter lulusan Universitas Indonesia ini menyebut bahwa menurut standar WHO, seorang pria dikatakan subur jika dalam semennya mengandung 20 sperma per mililiter dan paling sedikit hanya 50 persen saja dari sperma itu yang bergerak.

Tapi standar kesuburan pria dari WHO ini dibantah oleh beberapa peneliti AS yang menghasilkan temuan baru. Hasil temuan ini didasarkan atas titik ambang batas kesuburan dan ketidaksuburan, lalu mereka mempertimbangkan garis tengah antara keduanya.
Dr.Duane Alexander, direktur National Institute of Child Health and Human Development yang memprakarsai riset itu mengatakan, ”Rekomendasi yang memberi harapan bagi pria yang semula dianggap tak subur ini dapat mengestimasi mereka untuk punya anak. Kadang para spesialis lebih baik tidak menjelaskan masalah ketidaksuburan sebuah pasangan agar mereka terus berusaha untuk mendapat keturunan.”

Duane juga menambahkan bahwa satu dari enam pasangan suami-istri tak subur kerap memiliki problem untuk bisa menerima kenyataan. Dari kasus itu ketidaksuburan terletak pada pihak pria mencapai 30–40 persen.
Memang adakalanya bertindak bijaksana tanpa memberitahu pasien masalah ketidaksuburan yang dialaminya kalau itu belum benar-benar pasti. Sebab pasien yang sangat mengharapkan keturunan bukan tak mungkin menjadi frustrasi dan menghentikan segala usahanya ketika mengetahui dirinya tidak subur atau mandul.

Sementara itu, tim peneliti dari University of Rochester Medical Center melakukan riset terhadap kualitas sperma sekitar 1500 pria. 765 orang di antaranya subur, dan 696 tidak subur. Tim dari Rochester berpendapat bahwa standar WHO yang selama ini diterapkan telah memberi petunjuk salah kepada mereka. Menurut tim tersebut bentuk dan tampilan sperma sangat berpengaruh pada faktor kesuburan pria.

Tim yang diketuai Dr.David Guzick, spesialis ginekologi menyebut beberapa poin yang harus dipertimbangkan di masa mendatang. Menurutnya, ketidaksuburan pria ditentukan oleh konsentrat kurang dari 13,5m per mililiter dari semen, jumlah sperma yang bergerak tak lebih dari 32 persen, dan bentuk sperma yang seragam tak lebih dari 9 persen. Lalu ambang batas jumlah sperma berkisar antara 13,5m dan 48m sperma, sperma yang bergerak antara 32 dan 63 persen, sementara jumlah sperma berbentuk seragam antara 9 hingga 12 persen.
”Setiap pengobatan masalah kesuburan bergantung pada penetapan standar antara yang normal dan tak normal. Selama ini telah terjadi kesalahan standar yang tentu saja memacu kesalahan prosedur pengobatan. Kami harap para ahli medis dapat menggunakan standar baru ini dan memperbaiki teknik konseling bagi pasangan yang bermasalah dengan kesuburannya,” komentar Guzick.

Bersifat Relatif
”Memang kadang standar yang ditetapkan WHO tak bisa dijadikan patokan yang pasti. Masalah kesehatan adalah masalah yang sangat relatif bagi tiap orang. Apa yang terjadi pada satu pasien sering tak terjadi pada pasien lainnya. Semua bergantung pada banyak faktor. Demikian juga masalah fertilitas.

Ada kasus di mana pasien sudah putus asa tak bisa punya anak, tapi karena faktor kejiwaan, makanan, atau genetika tiba-tiba saja bisa memiliki anak,” jelas Dr.Andi Kosasih.

Hal serupa dinyatakan oleh Dr.Simon Fishel, direktur Centres for Assisted Reproduction di Inggris. Menurut Fishel temuan dari tim peneliti AS tak terlalu mengejutkan. Ia sering menemukan kasus di mana seorang pria yang dinyatakan mempunyai kualitas sperma buruk masih bisa punya anak secara alami.

”Banyak terjadi di mana ginekolog dan bidan terpaku pada petunjuk kedokteran yang menyesatkan. Sejumlah pasien banyak menjalani pengobatan di mana sesungguhnya mereka tak perlu melakukannya, justru banyak pasien yang butuh pengobatan tak mendapatkannya,” ujar Fishel. Jadi, masih ada harapan buat pasangan seperti Rahman dan Tina.

Satu Tanggapan to “[Serba-Serbi SPERMA] Pria Mandul PUNYA HARAPAN Dapat SPERMA BAGUS”

  1. saya termasuk pria yang disebutkan, minta saran cara mengatasi kesulian saya.

    regards

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: