[Serba-Seri ORGASME] Menemukan ORGASME Yang SEBENAR2NYA

Saat Anda dan pasangan terhubung secara fisik dan emosi, seks merupakan sarana membebaskan diri, bebas dari tekanan dan pikiran yang mengganggu. Namun, pernahkah Anda bayangkan bahwa keinginan mencapai orgasme itu sendiri bisa menjadi salah satu tekanan dalam melakukan hubungan seksual?

Hubungan seksual kerap dipandang sebagai sarana mencapai orgasme, bukan untuk mengekspresikan kasih sayang. Akibatnya, jika orgasme tak tercapai, kita merasa kecewa, ngambek, bahkan merasa ada yang salah dengan kehidupan seksual kita. Padahal, orgasme tidak bisa dipaksakan, dan seringkali tidak dapat dicapai jika kita tidak mengenal tubuh sendiri.

Coba saja lakukan ‘tes’ kecil berikut ini: dalam waktu tiga menit, pikirkan lima bagian tubuh dan kondisi apa yang paling mudah membangkitkan hasrat untuk bercinta. Bisakah Anda? Jika tidak, mungkin Anda perlu waktu untuk mengenal bagian tubuh dan sensasi yang paling tepat untuk Anda. Gunakan tangan, bulu-bulu, atau apapun untuk menemukan sensasi sentuhan yang berbeda pada tubuh Anda. Berikan waktu yang cukup untuk menikmati sensasi yang Anda ciptakan sendiri. Temukan setidaknya lima area, lalu beri tahu pasangan Anda bagaimana Anda ingin area tersebut diperlakukan.

Anda juga dapat melakukannya bersama pasangan. Tutup mata Anda dengan sapu tangan atau apa saja yang dianggap seksi, lalu minta pasangan melakukan eksplorasi ke seluruh tubuh Anda. Lakukan sentuhan, ciuman, jilatan atau gigitan lembut. Jujurlah pada diri sendiri, rangsangan di bagian mana yang paling kuat sensasinya. Bisa jadi Anda menemukan bagian tubuh yang tadinya Anda anggap tidak menarik apalagi seksi, ternyata bisa membuat Anda terangsang. Kalau perlu berikan penilaian: 0 untuk sensasi lemah hingga 5 untuk sensasi kuat.

G-Spot is…

Jangan lupa untuk mengenali organ intim Anda. Benarkah ada g-spot, ‘titik ajaib’ yang menciptakan sensasi untuk mencapai kepuasan seksual? Area ini ditemukan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Ernst Grafenberg dan diberi nama sesuai dengan namanya. G-spot adalah jaringan kecil pada dinding depan vagina. Jaraknya sekitar 5 cm dari mulut vagina.

G-spot terhubung langsung dengan otak. Jika menerima rangsangan, g-spot akan menerima aliran darah lebih banyak sehingga area ini membesar dan dapat diraba. Area ini hanya bereaksi terhadap tekanan, bukan sentuhan. Dengan demikian tidak semua posisi hubungan seksual dapat merangsang g-spot. Ini menyebabkan wanita sulit mengetahui posisi g-spot sendiri. Beberapa wanita menyatakan bahwa jika saat berhubungan seksual mereka berada di posisi atas atau melakukan dengan posisi duduk, akan lebih mudah untuk memberi rangsangan pada g-spot.

Wanita umumnya mengakui bahwa sekitar klitoris adalah area yang paling sensitif. Satu-satunya fungsi organ ini adalah untuk mencapai kepuasan seksual, dan sebagian besar wanita mengalami orgasme melalui rangsangan klitoris. Sedangkan pada vagina, sepertiga bagian terluar dari vagina adalah area yang sensitif. Umumnya lebih sulit mencapai orgasme vaginal daripada klitoral. Namun, tak berarti satu orgasme lebih baik dibanding orgasme yang lain. Keduanya merupakan cara yang berbeda untuk mendapatkan kepuasan seksual. Agar pasangan dapat membantu mencapai orgasme, Anda perlu mengomunikasikan orgasme mana yang lebih mudah dicapai.

Sexually Healthy

Walaupun berbeda intensitasnya, kebudayaan barat dan timur memperlihatkan persamaan dalam hal seksualitas wanita. Kepuasan wanita tidak hanya pada saat orgasme saja, tetapi juga pada perasaan bahwa dirinya tak hanya dijadikan obyek seksual pria saja, tapi juga menjadi subyek bagi dirinya sendiri. Aktualisasi diri yang dicapai itulah yang menjadikannya wanita seutuhnya. Karena pada hakekatnya, wanita juga mempunyai hak yang sama dengan pria.

Untuk mencapai kondisi mental yang sejahtera secara seksual (sexually healthy/wellbeing), nilai-nilai normatif dalam masyarakat yang sifatnya membuat wanita hanya sebagai obyek penderita sudah selayaknya tidak dijadikan patokan untuk menilai baik-buruknya seorang wanita. Karena pada dasarnya, wanita juga bebas berekspresi, berfantasi, dan menentukan kapan dia butuh atau tidak membutuhkan seks itu sendiri. Jadi, bukan terus mengambil peran sebagai obyek dan membatasi diri pada seberapa menarik dirinya bagi pria. Jadi, kali berikutnya Anda melakukan hubungan seksual, pusatkan saja pikiran pada pasangan dan sensasi fisik saat tubuh bersentuhan. Biarkan diri kita bereaksi mengikuti naluri, dan tidak perlu cemas akan terjadi tindakan spontan yang ‘mengecewakan’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: