ORGASME Pada PEREMPUAN [5]

Sementara itu semua orgasme secara organis adalah sama, bervariasi hanya dalam kekuatan dan lamanya, seorang wanita tidak mengalami sebuah orgasme selama menstruasi biasanya sama sekali berbeda daripada bagaimana dia mengalaminya selama melakukan seks dengan pasangan. Kenyataannya, para wanita seringkali melaporkan orgasme mereka yang paling “memuaskan” terjadi selama mastrubasi, kemungkinan disebabkan karena mereka merupakan pusat perhatian, dan tidak mengkhawatirkan tentang atau dibingungkan oleh pasangannya. Seorang wanita mengalami sebuah orgasme sama sekali berbeda jika vaginanya kosong daripada ketika penis atau tangan dimasukkan.

Dia menjadi lebih sadar terhadap kontraksi vagina ketika vaginanya memiliki sesuatu yang mengempit, atau saat vaginanya kosong dan kontraksi sendiri. Para wanita mengalami orgasme di seluruh tubuh, orgasme clitoral, orgasme vagina, dan orgasme uterine. Sementara media elektronik dan mengatakan bahwa semuanya adalah sama, para wanita akan meminta untuk dibedakan.

Master dan Johnson, dan yang lainnya, merasa semua wanita yang sehat mampu mengalami orgasme ketika mereka sedang dirangsang dengan hanya melalui hubungan intim lewat vagina itu sendiri. Ketika proses pemasukkan penis akan menekan dan menarik labia dalam, mengakibatkan adanya rangsangan tidak langsung pada clitoris (kelentit), para ahli seks yang lainnya tidak setuju dengan mereka. Sementara secara teknik hal ini mungkin, rupanya secara prakteknya hal tersebut mustahil.

Jika kebiasaan mastrubasi wanita merupakan petunjuk, perangsangan vagina kemungkinannya kurang menghasilkan orgasme daripada aktivitas-aktivitas yang merangsang clitorisnya secara langsung. 90% wanita yang mastrubasi melakukannya dengan cara merangsang clitoris mereka. Hanya 10% wanita yang merangsang vagina mereka selama mastrubasi, dan bahkan mereka biasanya merangsang clitoris mereka pada saat yang sama. Saat seorang wanita mastrubasi, dia dijamin hampir orgasme.

Bahkan jika clitoris seorang wanita bukan merupakan organ sensor seksnya yang utama, kebiasaan itu sendiri memerintahkan bahwa dia paling orgasmik dari perangsangan clitoral, bukan perangsangan melalui vagina. Apakah pantas untuk mempercayai para wanita mastrubasi dengan cara apapun selain daripada cara yang bekerja paling baik?

Seperti yang saya sebutkan di atas, tubuh seorang wanita tidak sepenuhnya siap untuk berhubungan intim sampai dia berada pada gairah puncak, dan pada tahap stabil. Jika seorang wanita berada dalam gairah yang memuncak kemudian kelihatannya memungkinkan perangsangan tidak langsung terhadap clitorisnya, digabungkan dengan emosional yang kuat diantara seorang wanita dan pasangannya selama hubungan intim, rangsangan psikologis itu sendiri bisa menghasilkan orgasme, jika dia dalam gairah yang memuncak.

Hal yang sama tidak bisa dikatakan tentang seorang wanita yang mencoba keluar dari tingkat gairah seksual yang rendah, segala cara untuk orgasme dengan cara-cara rangsangan clitoral dan vagina dengan tidak langusung. Jika vagina seorang wanita mati rasa terhadap pemasukkan penis dia menemukan bahwa rangsangan secara tak langsung terhadap clitorisnya itu sendiri tidak cukup mendorongnya melalui ambang orgasme bahkan jika dia dalam gairah yang memuncak. Layaknya mengharapkan para wanita memerlukan rangsangan clitoral secara langsung untuk mempersiapkan mereka dalam berhubungan intim bahkan jika mereka tidak memerlukannya selama hubungan intim melalui vagina untuk mencapai orgasme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: