Penting: Jangan Bercinta Ketika FLU

Jika Anda atau pasangan Anda menderita flu, cara terbaik tidak menulari atau tertular adalah menghindari semua hubungan intim. Masalahnya adalah, orang-orang Amerika Serikat dewasa pada umumnya, menderita flu kurang lebih dua kali dalam setahun: orangtua yang memiliki anak-anak kecil yang bersekolah pada umunya menderita flu kurang lebih 6 kali. Pada beberapa kali musim dingin, berarti tidak berhubungan seksual selama beberapa bulan — dan pada bulan Pebruari yang mendung mungkin akan membuat stres jika dipikirkan.

Jika Anda memutuskan untuk tetap melakukan hubungan seksual meskipun sedang sakit flu, apa yang mungkin terjadi pada Anda berdua? Yah, tidak seperti yang mungkin Anda pikirkan. Alasannya adalah, demikian kata para peneliti, sakit flu hanya sangat menular selama kurang lebih tiga hari — mulai dari saat Anda menyadari bahwa Anda terserang flu, hingga kurang lebih tiga hari kemudian. Selama periode kritis ini, tubuh Anda mengandung virus-virus penyebab flu yang mengganas yang siap menular. Anda juga mengandung virus-virus tersebut selama beberapa hari sebelum Anda mulai merasa tidak enak badan dan selama lebih dari tiga minggu setelah Anda sembuh, namun dengan jumlah virus yang sedikit tersebut, Anda tidak akan menulari pasangan Anda ataupun rekan-rekan kerja Anda, demikian kata para peneliti.

Tip 1: Cobalah menghindari kontak intim selama
tiga hari pertama sejak sakit flu Anda.

KEKHAWATIRAN MENGENAI CIUMAN
Bertentangan dengan kepercayaaan umum, sebenarnya lebih sukar terserang flu dengan cara mencium seseorang dengan hidung daripada dengan jabata tangan. Pada suatu penelitian di University of Wiconsin, hanya 1 dari 16 mahasiswa yang menjadi sukarelawan, yang mencium sukarelawan-sukarelawan lainnya yang terserang flu dan akhirnya jatuh sakit.

Penelitian-penelitian lainnya telah menunjukkan bahwa diperlukan sebanyak 1.000 kali bagi rhinovirus (salah satu jenis dari virus-virus penyebab flu) untuk dapat menyebabkan flu, jika virus tersebut diteteskan di atas lidah bukannya digosokkan pada saluran hidung. Di lidah, rhinovirus cenderung tertelan dan benar-benar mati di perut. Namun hidung adalah jalan yang tepat untuk menuju ke saluran pernapasan bagian atas, tempat yang disenangi oleh flu. Sekedar peringatan: Adenovirus (jenis virus lainnya penyebab flu) dapat disebarkan oleh mulut, namun tidak diketahui seberapa sering hal tersebut terjadi.

Namun suatu penelitian lain menemukan bahwa kurang lebih 40% pasangan suami istri menularkan virus ini ke pasangan mereka. Pada kenyataannya, para peneliti tersebut menemukan bahwa ketika salah seorang di dalam keluarga terserang flu, maka anggota keluarga lainnya memiliki kemungkinan 40% untuk terserang penyakit ini — yang menunjukkan bahwa kontak seksual bukanlah faktor utama.

Tip 2: Untuk amannya, tetaplah menghindari
kontak intim dan ciuman di mulut.

BERHATI-HATILAH TERHADAP BERSIN DAN JABAT TANGAN
Yang cukup menarik, meskipun miliaran flu telah membuat umat manusia menderita, para peneliti masih belum benar-benar yakin bagaimana flu biasanya ditularkan. Namun sebagian besar spesialis sekarang yakin bahwa dua cara penularan yang paling umum adalah melalui jabat tangan dan melalui udara.

Beberapa peneliti cenderung mendukung teori penularan lewat udara — bersin dapat mengirim tebaran rhinovirus sejauh tiga kaki atau lebih. Namun dua peneliti flu pada University of Virginia School of Medicine di Charlottesville yaitu Jack Gwaltney, M.d., dan Owen Hendley, M.D., dengan meyakinkan telah mendemonstrasikan suatu bentuk teori penularan dari hidung ke tangan — lalu ke hidung.

Dalam suatu penelitian, Dr. Gwaltney dan Dr. Hendley menyuruh 15 mahasiswa untuk melumuri tangan mereka dengan ingus orang-orang yang terserang flu dan kemudian menyentuh hidung atau mata mereka. Hasilnya: 11 dari 15 orang terserang flu. Sebaliknya, 12 mahasiswa yang hanya duduk bersama di sebuah meja dengan para penderita flu, hanya 1 orang yang menjadi sakit. Secara umum teorinya adalah: orang-orang yang terserang flu yang tangannya dipenuhi dengan virus-virus flu yang berasal dari hembusan hidung mereka menyentuh pegangan pintu atau tangan dari orang lain sehingga dengan cara itu mereka dapat menularkan virus tersebut ke korban berikutnya. Orang tersebut, sebagai gantinya, menjadi tertular ketika tangannya mereka menyentuh hidung atau mata mereka sendiri. (Para peneliti diam-diam mengamati dokter-dokter di suatu konferensi dan mencatat bahwa mereka hidung dan matanya rata-rata kurang lebih satu kali dalam satu setengah jam).

Bagaimana cara membuyarkan rangkaian penularan ini? Dalam suatu eksperimen lainnya, Dr. Gwaltney dan Dr. Hendley menyuruh ibu-ibu yang anggotanya keluarganya terserang flu untuk mencelupkan tangan mereka dalam larutan yodium yang encer — yang dapat membunuh rhinovirus dalam waktu 2 jam. Hasilnya: yang teserang penyakit ini hanya kurang dari separuh dari ibu yang tidak mencelupkan tangan mereka. Penemuan-penemuan penelitian ini diterjemahkan ke dalam cara-cara yang sederhana bagi Anda dan pasangan Anda agar dapat saling melindungi. Ketika pasangan Anda terserang flu, sering-seringlah mencuci tangan Anda, dan cobalah menjauhkan tangan Anda dari hidung dan mata Anda. Jangan lupa untuk mencuci tangan Anda (atau sebaiknya mandi) setelah berhubungan seksual atau kontak intim lainnya.

Untuk melindungi pasangan Anda ketika Anda terserang flu, jangan lupa untuk selalu menutup mulut Anda ketika bersin dan gunakan tisu sekali pakai dari pada sapu tangan kain, yang mana akan menjadi semacam baju hangat bagi virus-virus ini (virus-virus tersebut biasanya dapat hidup di sapu tangan kain selama berjam-jam).

MENURUNKAN LIBIDO
Mengenai satu-satunya kabar baik dalam hal ini adalah sifat alamiah diri Anda sendiri. Ketika Anda terserang flu, betapapun biasanya Anda tidak berhasrat untuk berhubungan seksual sehingga dengan demikian dapat memecahkan seluruh masalah. Ini dikarenakan bagian dari respon sistem kekebalan terhadap infeksi merupakan suatu rangkaian hormon yang kompleks yang membendung gairah, dorongan seksual dan proses-proses reproduksi, demikian menurut ahli neuroendokrinologi dari Stanford University yang bernama Robert M. Sapolsky, Ph.D. Ini wajar karena: Ketika tubuh Anda sedang berperang dengan virus yang masuk, diperlukan pengaturan semua kekuatan untuk melawan dan bukannya hanya membuang tenaga untuk hal-hal yang sepele seperti kenikmatan seksual. Tubuh memadamkan gairah seksual dengan mengurangi tingkat hormon seks yang beredar, demikian kata Dr. Sapolsky,dan jika penyakit tersebut berlangsung cukup lama, tubuh bahkan dapat mengurangi produksi sperma dan ovulasi. (Jadi, tidak ada alasan untuk tidak berhubungan intim ketika Anda merasa begitu loyo).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: