Mari Menjelajahi VAGINA

Meskipun perannya sangat vital dalam sejarah manusia, namun hingga sekarang bagian dalam vagina hampir sama misteriusnya dengan bagian bulan yang gelap. Namun di akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, dalam suatu rangkaian eksplorasi yang mengagumkan, William Maters, M.D., dan Virginia Johnson, dari Masters and Johnson Intitute di St. Louis, dapat mengamati secara langsung sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya: apa yang terjadi di dalam vagina pada saat rangsangan seksual dan persetubuhan. Mereka melakukan pekerjaan yang sulit dan mengagumkan ini dengan cara meminta wanita untuk bermasturbasi hingga orgasme, dengan menggunakan penis plastik yang dilengkapi kamera yang canggih, lengkap dengan lampu dingin khusus untuk menerangi bagian dalam yang misterius dan gelap itu.

Pada keadaan normal dan tak terstimulasi, demikian mereka melaporkan, vagina adalah “suatu ruang yang memiliki kemampuan yang lebih dari keadaan sebenarnya” — dinding-dindingnya yang lunak dan sejajar letaknya saling menyentuh satu sama lain. Namun selama tahap pertama siklus respon seksual, sesaat setelah stimulasi seksual bermula, dua hal terjadi: vagina mulai berlubrikasi dan mengembang. Lubrikasi merupakan tanda fisiologis pertama terangsangnya seorang wanita: Dalam waktu 10 hingga 30 detik setelah stimulasi dimulai, demikian Masters dan Johnson mendapati, tetesan-tetesan kecil cairan mulai terbentuk di seluruh dinding vagina yang membuat dinding-dinding vagina hampir seperti dahi yang berkeringat. Tetesan kecil tersebut dengan cepat menyebar membentuk selubung yang lembut dan mengkilat.

Ketika seorang wanita menjadi bertambah terangsang, dua pertiga vaginanya yang paling dalam mulai membesar, hampir seperti sebuah balon — memanjang dan mengembang, dalam sebuah efek yang digambarkan oleh Masters dan Johnson sebagai “efek mengembang.” Rahim dan leher rahim naik turun dengan pelan untuk menghindari bahaya. (Jika seorang wanita memiliki rahim yang terbalik, leher rahim akan tetap berada di tempatnya semula dan bertahan dalam ruang vagina yang telah mengembang tersebut — sehingga penis seorang laki-laki mungkin memukulnya, yang kadang-kadang menimbulkan rasa sakit pada persetubuhan).

Sementara itu, dinding-dinding vagina secara dramatis berubah warna. Dari mulai warnanya yang semula yaitu merah keunguan berubah menjadi lebih gelap yaitu warna ungu yang jelas sebagai akibat vasokongesti yaitu darah yang terbendung yang merupakan kejadian terpenting dalam rangsangan seksual.

Ketika rangsangan seksual mencapai tahap yang lebih konstan (tahap kedua siklus respon seksual), bagian luar vagina dipenuhi darah hingga pada tahap di mana hal ini mempersempit jalan masuk vagina hingga 50%. (Bagian vagina yang lebih dalam mengembang, sementara bagian luar menyempit). Mereka menyebut bagian paling luar vagina yang membengkak oleh adanya vasongesti sebagai “platform orgasme” dan itu adalah tempat yang bereaksi paling dramatis selama orgasme, demikian mereka mendapati. Pada saat klimaks, seluruh lingkaran paling luar mulai berkontraksi secara tak teratur pada interval 0.8 detik, kurang lebih 3 hingga 15 kali. Pada puncak gairah seksual, demikian Master dan Johnson mendapati, beberapa wanita mengalami dua macam superorgasme: platform orgasme meledak menjadi spastik kontraksi, yang berlangsung 2 hingga 4 detik, kemudian menjadi kontraksi-kontraksi orgasme normal dengan interval 0,8 detik.

Kemudian (pada fase ketiga siklus respon seksual atau fase resolusi), platform orgasme dengan cepat mengalirkan keluar darah yang terbendung, lubang vagina membesar dan bagian dalam vagina yang mengembang menjadi mengkerut kembali ke keadaan normal. Warna vagina kembali seperti semula dalam waktu 10 hingga 15 menit dan keadaan kembali normal. Woow!

Penemuan-penemuan Masters dan Johnson yang spektakuler ini mengarah kepada satu kesimpulan yang agak memprihatinkan — bahwa sebagian besar laki-laki telah terbentur pada keyakinan-keyakinan yang salah mengenai apa yang sebenarnya membuat wanita bergairah.

MENGUNGKAP MITOS YANG SALAH MENGENAI PENETRASI YANG DALAM
Kesalahpahaman terbesar yang dialami sebagian besar laki-laki mengenai vagina adalah bahwa penetrasi yang dalam dan menghentak akan membuat wanita mengalami kenikmatan yang sangat. Literatur erotis yang berorientasi pada pria, tanpa henti mereka-reka perumpamaan dari penetrasi yang dalam seperti: benda-benda panjang berujung runcing, tombak, pedang, lembing dan pedang Arab) yang seakan tak sabar untuk menembus masuk ke dalam selongsongnya. Namun pada kenyataannya adalah, bagi sebagian besar wanita, dua pertiga bagian terdalam dari vagina sebenarnya tidak peka terhadap sentuhan. Para peneliti telah mendapati bahwa di bagian paling dalam, dinding-dinding vagina memiliki sedikit sekali ujung-ujung syaraf sehingga bagian-bagaian terebut serupa dengan organ tubuh bagian dalam lainnya (jika seseorang menyentuh ginjal anda, Anda hampir-hampir tidak mengetahuinya). Sebaliknya, bagian luar ketiga vagina dan lubang vagina (termasuk labia dan klitoris) sangat sensitif terhadap sentuhan.

Tempat-tempat yang sensitif ini didemonstrasikan beberapa tahun yang lalu dalam serangkaian eksperimen yang terkenal yang dilakukan oleh Dr. Alfred Kinsey dan kolega-koleganya, yang mengerahkan lima ahli kandungan untuk menjelajahi kepekaan seluruh daerah genital pada 877 wanita. Dengan menggunakan sebuah alat pemeriksa yang berujung kaca, logam atau kapas, para ahli kandungan tersebut menyentuh atau dengan pelan mengelus setiap tempat yang berbeda, termasuk klitoris, labia, lubang vagina, serta dinding-dinding vagina yang dalam dan leher rahim. Ketika alat pemeriksa tersebut bersentuhan dengan dinding-dinding vagina yang dalam, para ahli kandungan tersebut melaporkan bahwa kurang dari 14% wanita dapat merasakannya. Sebaliknya, ketika alat tersebut mengelus klitoris, labia atau pada hakekatnya dibagian manapun di sekeliling lubang vagina tersebut, 97% wanita “terangsang secara signifikan” oleh sentuhan tersebut.

Dr. Kinsey juga mencatat suatu hal lainnya yang dianggapnya sebagai konfirmasi tidak langsung dari penemuan-penemuan tersebut: Hanya sedikit wanita yang bermasturbasi yang mengatakan bahwa mereka biasanya melakukan penetrasi yang dalam dengan menyelipkan sesuatu hingga dalam ke dalam vagina mereka. Delapan puluh empat persen dari wanita itu mengatakan bahwa mereka kebanyakan bermasturbasi dengan menstimulasi klitoris dan labianya; beberapa wanita lainnya mengatakan bahwa mereka menyelipkan sesuatu, namun hanya kadang-kadang.

Sebaliknya, para peneliti seks setelah masanya Dr. Kinsey selalu yakin bahwa wanita beberapa wanita mengira penetrasi yang dalam pada vagina dapat menimbulkan nikmat yang luar biasa, seraya melaporkan bahwa hal itu dapat memicu orgasme ” yang sempurna,” yang berbeda dari orgasme yang ditimbulkan oleh stimulasi klitoris. Karena dinding vagina memiliki indera perasa yang lemah, sumber-sumber lain diduga sebagai penyebab sensasi-sensasi tersebut. Beberapa wanita, demikian para peneliti seks sekarang meyakini, sangat menikmati kontraksi-kontraksi otot rahim yang kuat dan otot-otot pada tulang pinggul, yang terjadi pada saat orgasme (dan mereka akan sangat kehilangan ketika rahim diangkat pada histerektomi). Beberapa wanita lainnya tampaknya sangat responsif terhadap tekanan yang kuat pada dinding depan atas vagin, yang disebut G-spot.

Pada dasarnya, apa yang sedang kita bicarakan di sini adalah bahwa ketika menyangkut masalah kenikmatan seksual — dan organ seksual — kita semua sama…namun kita juga berbeda.

DANCING WOMAN bertemu COYOTE MAN
Hampir semua orang yang sering ke kamar ganti akan memperhatikan keragaman yang luar biasa dan mengagumkan dari berbagai bentuk tubuh manusia, termasuk genital. Vagina dan penis, sama beragamnya dengan wajah, rambut dan tangan. Pada kenyataannya, telah berkali-kali dilakukan usaha-usaha yang telah berlangsung dari abad ke abad — mulai dari pakar seks Hindu dari abad pertengahan India hingga para ahli pengobatan bangsa Cherokee — untuk mengklasifikasikan laki-laki dan wanita menurut bentuk genital-genital mereka.

Sebagai contoh, di antara orang-orang Cherokee, vagina diberi nama yang bagus yaitu Tupul, atau “ular terbang yang berbulu,” yang kemisteriusan dan sifatnya berkaitan dengan seluruh sifat seksual seorang wanita, demikian menurut Harley Swiftdeer, pengarang Quodoushka Manual. Orang-orang Cherokee menggambarkan 5 jenis anatomi genital wanita dan 5 jenis genital laki-laki. Kategori Dancing Woman, sebagai contoh, memiliki ke dalaman vgina yang rata-rata, bibir-bibir labia yang kecil, sebuah klitoris yang kecil dan sangat tinggi (3 atau 4 jari di atas lubang vagina) dan yang menyembul dengan mudah dari bawah selubungnya. Wanita seperti ini lebih menyukai kategori Coyote Man yang penisnya (yang juga dikenal sebagai Tipili atau “ular suci”) cenderung sangat pendek dan kecil. Sebaliknya, kategori Sheep Woman memiliki vagina yang lebih dalam, bibir-bibir lebih tebal dan sebuah klitoris yang lebih rendah dan lebih terselubung; wanita tersebut cenderung berlubrikasi berkali-kali dan tampaknya tidak dapat mencapai orgasme kecuali jika dia mencintai pasangannya. Ia juga lebih menyukai tipe Coyote Man (sungguh, ia seekor coyote yang beruntung).

Ajaran-ajaran seperti ini, meskipun tampak aneh, namun pada hakekatnya menekankan kebenaran yang luar biasa seksualitas manusia bahwa: tubuh-tubuh kita dan seksualitas kita, merupakan suatu ekspresi dari keunikan kita sendiri dan tidak ada ketegori “benar” atau “salah” dalam hal ini.

Satu Tanggapan to “Mari Menjelajahi VAGINA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: