THE POWER OF ASIAN SEX

SETIAP NEGARA di Asia, ternyata punya banyak cerita tentang hiruk pikuknya dunia seks.  Tak melulu bertutur soal tempat yang jadi incaran untuk mencari kenikmatan seksual, tapi juga ritual-ritual yang kerap dipakai untuk menikmati hubungan seks itu sendiri.

Keragaman budaya Asia menjadi salah satu pintu bagi berkembangnya daya kreasi dan cipta manusia. Keragaman budaya tidak hanya bisa kita nikmati dari warisan arsitektur, seni dan bahasa, dunia kuliner hingga urusan seni syahwat pun bisa kita gali di sini. Jangan salah, bahkan antar propinsi di Indonesia saja, punya sejarah seksual beragam dalam kitab-kitab kunonya.

Yang menarik, ada sisi linear dari semua negara di Asia, seks termasuk sesuatu yang ‘tabu’ untuk dibicarakan secara terbuka namun diam-diam dipelajari dan turun temurun diajarkan secara eksplisit maupun implisit.

Kita tahu bahwa seksualitas bagi masyarakat di Indonesia adalah sesuatu yang personal dan intim dan kadang mungkin masih tabu untuk dibicarakan didepan umum. Untuk itu kadang kita perlu membiasakan atau menyesuaikan dengan budaya dan kebiasaan orang barat dalam memandang seksualitas.

Bagi masyarakat Barat, seksualitas sendiri adalah bukan hal yang tabu lagi untuk dibicarakan di depan umum, bahkan bukan saja dibicarakan di jalanan tapi juga di radio, surat kabar dan televisi. Dan tentunya keterbukaan ini mempunyai sisi positifnya sebagai bagian dari penyuluhan kepada anak-anak muda mengenai seksualitas atau sex education dimana informasi ini lebih mudah didapatkan dibandingkan di Indonesia.

Kalau menilik kitab-kitab kuno di beberapa negara Asia, seks justru sudah dibahas lebih terbuka. Bahkan di negara yang nota bene “tertutup” seperti Arab. Di India, siapa yang tidak tahu istilah Kama Sutra. Di Indonesia istilah itu identik dengan karakteristik seksual dan posisi bercinta yang bisa memberikan sensasi tak terduga. Di beberapa buku, malah digamblangkan dengan gambar-gambar posisi yang dimaksud. Kama Sutra, disusun seorang cendekia bernama Vatsyayana sekitar abad ketiga sampai kelima Masehi,yang berasal dari India.

Kemudian ada kitab Serat Centini yang – konon – adalah budaya seksual dalam sudut pandang Jawa. Berbeda dengan Kama Sutra, seksualitas dalam Serat Centhini tidak dituangkan dalam bentuk panduan langsung seperti buku manual, melainkan dijalin ke dalam rangkaian plot yang berwarna-warni.

Adegan seks dalam Serat Centhini barangkali lebih vulgar daripada stensilan porno, tetapi cara penggambarannya yang deskriptif itu justru terasa segar, sering lucu dan sesekali hiperbolis. Gaya penceritaannya khas orang Jawa, blak-blakan dan mengena, kadang bikin kita geleng-geleng kepala.
Sekilas pandang, tampaknya stereotipe gender tentang seks didobrak oleh Serat Centhini, yang terlihat dari tokoh-tokoh wanita yang mengidap deviasi seksual (hiperseks dan eksibisionis) dan beberapa kali digambarkan bahwa wanita bisa menjadi inisiator hubungan seksual. Namun, kita tidak bisa sembarangan mengambil kesimpulan demikian mengingat penulis Serat Centhini adalah pria dan apa yang ditulisnya bisa jadi fantasi belaka (seperti wanita yang menggemari fiksi cinta sesama pria dan pria menyukai adegan wanita bercumbu dengan sesamanya).

Satu hal lagi, Serat Centhini adalah satu-satunya naskah kuno yang menggambarkan hubungan homoseksual (penetrasi anal) dengan deskriptif. Ini membuktikan bahwa homoseksualitas sudah ada sejak berabad-abad lalu di Indonesia.

Organ Genital  Over Size
Bagaimana dengan Arab? Satu negara [atau kawasan] yang kerap diasosiasikan dengan organ genital yang ‘over-size’ tapi juga identik dengan amat sangat tabu bicara seks. Jangan salah, ada beberapa kitab klasik mereka yang terang-terangan bicara soal seks. Judulnya The Perfumed Garden. Orang yang menulisnya dijuluki sebagai Sheikh al-Nefzawi. Kitab ini ditulis sekitar abad keenam belas, kemungkinan di Tunisia. Kitab tersebut menggabungkan materi tentang seks dari Arab dan India dan isinya diilustrasikan dengan anekdot, kejadian yang menghibur, dan kisah tipu-tipu mirip Cerita Seribu Satu Malam.

Sang penulis menunjukkan bahwa seksualitas adalah bagian rencana Tuhan, merupakan seni, bentuk penyembuhan, sakramen dan berperan dalam keawetan pernikahan. The Perfumed Garden merupakan buku teks yang mendeskripsikan posisi sanggama yang cocok untuk segala tipe fisik, pas untuk situasi khusus dan kebutuhan tertentu.

Pembacanya disarankan untuk mencoba berbagai posisi tersebut supaya ketemu dengan posisi yang paling cocok buat mereka. Sang penulis sendiri mengatakan bahwa orang India membawa senggama sampai ke tingkat seni terhebat, tapi beberapa posisi di teks-teks mereka secara fisik mustahil.

Sheikh al-Nefzawi juga membahas tentang bentuk dan ukuran organ seks, tipe pria dan wanita, karakteristik yang diidamkan dan hubungan antara seksualitas, fisik dan temperamen psikologis. Ada bab yang isinya katalog tipe pria dan wanita yang tidak disukai maupun yang disukai.

Disebutkan pula ciuman direkomendasikan agar wanita mendapat kepuasan. Masih menurut sang Sheikh, kalau suatu posisi tidak memungkinkan kontak mulut ke mulut, posisi tersebut tak sepenuhnya memuaskan. Pembaca juga diberi petunjuk agar memperhatikan desahan wanita, tatapan sayu matanya dan ditekankan untuk mendapatkan orgasme mutual.

Jika dalam masyarakat Jawa ada kitab seks Serat Centini dan Serat Nitimani, maka di masyarakat Bugis juga ada manuskrip atau lontar Assikalaibineng.
Assikalaibineng mencatat pengetahuan yang paling rahasia dan paling erotis dalam hubungan seksual (suami-istri). Kedudukan naskah Assikalaibineng ini menjadi referensi bagi masyarakat luas dalam rangka pembelajaran tentang hal hubungan seks dengan segala aspeknya.

Dalam kacamata pengamat sejarah Muklis Hadrawi, dari Universitas Hasanuddin, “Substansi manuskrib Assikalaibineng menyajikan pengetahuan tentang hubungan seks mulai konsep filosofi seks, pengetahuan alat reproduksi, tahapan atau prosedur hubungan, doa-doa, mantra-mantra, teknik perangsangan, posisi dan gaya persetubuhan, teknik sentuhan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam pesetubuhan, tata cara pembersihan tubuh, pengobatan kelamin, serta perlakuan-perlakuan seksual lainnya,” ungkapnya.

Assikalaibineng yang diperkirakan manuskrip abad XVII, ketika tasawuf Islam telah berkembang di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar, secara khusus juga mengajarkan aspek-aspek seksualitas sampai pada hakikat atau derajat pemahaman seksual yang paling tinggi, yakni spiritual seks.

Menurut Hadrawi, seks dalam konteks Assikalaibineng tidak sekadar peristiwa biologis belaka, tetapi telah menjadi bagian dari sistem sosial Bugis yang didasari oleh seperangkat nilai agama Islam. Seluruh rangkaian aktivitas seksual dalam teks Assikalaibineng mulai pada tahap cumbu rayu, tahap inti atau senggama, hingga tahap akhir hubungan seks (pembersihan dan perawatan tubuh), memberikan kedudukan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi lakuan seks, sedangkan istri sebagai pihak penerima.

Hadrawi menjelaskan, dengan status seksual laki-laki yang aktif itu, Assikalaibineng mensyaratkan pihak laki-laki harus memiliki pengetahuan yang cukup agar dapat melakukan hubungan seks dengan istrinya secara berkualitas. Di sisi lain, suami disyaratkan untuk bijaksana dalam menjalankan peran seksualitasnya.
Menurut dia, teks Assikalaibineng memaparkan perlakuan fase inti hubungan seks ini misalnya cara menyentuh titik peka pada vagina empat sisi yaitu kiri, kanan, atas, dan bawah. “Sentuhan terhadap empat dinding tersebut menunjukkan cara dan gaya persetubuhan yang variatif dan seluruh gaya itu dikendalikan oleh pihak laki-laki. Menyentuh empat pintu vagina istri itu menjadi tahap awal sebelum menyentuh daerah terdalam (pintu surga) vagina, yang disebutkan akan memberi puncak kenikmatan seksual terhadap istri,” Hadrawi menjelaskan. [djoko moernantyo]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: