One Gender, One Love, One Passion

Pria lenjeh, perempuan macho, selalu digambarkan berbalik dengan kondisi riilnya. Mereka kerap dituding identik dengan homo atau lesbian. Benarkah orientasi seksual yang sejenis itu lahir dari lingkungan dekatnya?

DI SEBUAH kafe di bilangan Senayan, Chandra [nama samaran], duduk sendiri. “Cowok”  [betul, dengan tanda petik] yang bekerja di sebuah kantor penerbitan ini sedang menunggu Dimas [juga nama samaran], kekasihnya. Betul, dua orang ini memang secara kasat mata memang laki-laki tulen. Bedanya, mereka saling cinta dan menyatakan diri sebagai pasangan kekasih. Istilahnya, mereka adalah gay.

Dalam kesempatan berbeda, Chandra pernah membawa flash disc penuh foto-foto erotisnya ke kantor. Nyaris telanjang, Chandra yang dalam relasi homoseksual itu berperan sebagai perempuan, berpose layaknya model-model dalam majalah lifestyle. Katanya, mereka menginap di salah satu hotel berbintang dan melakukan aktivitas seksualnya juga di tempat itu.

Sampai pada suatu kesempatan, Chandra berceloteh soal dirinya. Dia bercerita bagaimana setiap hari bercinta dengan pasangannya di kamar kosnya.  Melihat Dimas pasangannya, sebenarnya tak ada geliat gay dalam lenggak-lenggoknya. Orangnya tidak terlalu tinggi, cenderung pendek malah. Posturnya lebih mirip kutu buku yang biasa berkutat di belakang computer.

Sementara Chandra memang lebih bisa ditebak. Selain menjadi penulis, Chandra kerap didapuk sebagai make-up artis atau merias pengantin. Gayanya lembut dan nada bicaranya halus seperti perempuan. Chandra juga seorang sarjana dari salah satu universitas ngetop di Jakarta.

Menurut Chandra, dirinya menjadi gay bukan karena pergaulan. Menurut pengakuannya, sejak kecil dirinya terbiasa bermain dengan mainan yang biasanya identik dengan perempuan, seperti boneka, masak-masakan, atau merias boneka. “Dari kecil saya sudah merasa berbeda,” ujar adik seorang perwira kepolisian ini.

Menurut pengakuan Chandra, keluarganya sudah tahu tentang “penyimpangan” yang dialaminya. “Awalnya memang mereka menutupi dan sempat berbuat keras kepada saya, tapi lama-lama mereka membiarkan saja,” tukasnya.

Berbeda dengan Dedi [nama samaran juga]. Keluarga besarnya sempat mengusir ketika tahu dia memilih menjadi “perempuan”. Kakaknya malah merasa tak pernah punya adik karena orientasi seksualnya yang dianggap berbeda itu. Toh Dedi tak bergeming. Dia memilih kos dan bekerja di salon yang cukup ternama. Malah Dedi sempat menjadi favorit di salah kontes pemilihan waria di Jakarta.

Kini, Dedi yang akhirnya lulus sebagai sarjana komunikasi di salah satu kampus swasta ternama, masih tetap bekerja di salon. Malah kabarnya, sudah punya pasangan tetap, meski belum pada niat untuk menikah. “Disini masih sulit menerima pernikahan homoseksual,” tukasnya dengan suara lenjeh.

Chandra, Dedi dan Dimas, mungkin awalnya juga tak ingin menjadi seperti sekarang. Tapi lambat laun mereka menemukan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dan itulah yang menjadi sifat homoseksualitas itu.

Ketiganya mengakui, tidak mudah bagi seorang wanita atau laki-laki menerima kenyataan bahwa dia seorang berbeda. Pertama karena masyarakat akan memperlakukan kejam pada kaum homoseksual atau lesbian. Kedua dia tahu hal tersebut dilarang keras oleh agama dan ketiga,  dia tidak dapat membohongi perasaan tertarik terhadap sesama jenis lebih daripada sesama lawan jenis.

Diakui pula oleh Dedi dan Chandra, Sebagai orientasi seksual yang minoritas dalam masyarakat, menjadi lesbian atau gay adalah pilihan yang berat. Karena  mereka harus menerima label atau cap seperti abnormal, sakit, keluar jalur, menyalahi kodrat, berdosa, dan lain sebagainya.

Mengapa Jadi Cinta Sejenis?
Kristian (34) mengaku menjadi homoseks gara-gara terbiasa berkencan dengan pria saat ia duduk di bangku kuliah. Kebiasaan yang dilatarbelakangi kebutuhan finansial itu membuatnya beralih menjadi homoseksual. ”Awalnya aku coba- coba, tertarik sama cowok karena ingin memiliki tubuh seperti itu juga, tetapi lama-lama rasa itu menjadi lain,” katanya.

Mengapa seseorang bisa menyukai sesama jenis?  Ada banyak hal yang disamarkan juga. Untuk lebih menyamarkan identitas seksualnya ini tak jarang ada homo atau lesbian yang sengaja menikahi seorang wanita. Dengan begitu, pandangan masyarakat awam tentang dirinya pun berubah dan kembali melihat dia sebagai “orang normal”.

Pernikahan itu umumnya hanya untuk menutupi kehomoannya saja, tak lama juga akan ada kabar kalau mereka bercerai. Sumber lain juga mengatakan, pernah ada aktris cantik yang tak menyangka mantan suaminya ternyata dulunya termasuk kaum gay.

Dalam kacamata dr Wimpie Pangkahila, seksolog Universitas Udayana Bali,  Mereka yang semacam itu bisa dikatakan sebagai homoseks tidak murni alias biseks. “Tapi, meski sudah menikah, orientasi seksual dengan sesama jenisnya masih tetap melekat,” ujarnya.

Dalam survey yang dilakukan di Amerika, tahun 2003 menemukan bahwa 30% orang Amerika percaya status sex merupakan bawaan lahir, dibandingkan dengan 14% yang berpikir itu ditentukan oleh masa kecil. Sementara 42% lainnya beranggapan itu merupakan pilihan gaya hidup seseorang.

Meskipun banyak literatur menjelaskan bahwa faktor bawaan dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam pembentukan orientasi homoseks, namun sampai sekarang pun hal ini masih menjadi perdebatan. Pun demikian jika saya kebetulan berkenalan dengan kawan gay. Perbincangan yang tidak pernah luput dibicarakan adalah tentang asal usul orientasi seks, yang biasanya diawali dengan “Aku jadi begini ini karena….” Beberapa menyebutkan faktor lingkungan yang “menjadikan” mereka begini, yakni mengalami “salah” asuhan orangtua, misalnya saja anak laki-laki yang diperlakukan sebagai perempuan atau sebaliknya, atau hilangnya salah satu figur orangtua, namun ada juga yang menyebutkan “Sudah dari sana-nya” menjadi gay.

Dalam perbincangan dengan Dr. Linda T Maas, MPH, seorang seksolog asal Medan, seseorang menjadi lesbi atau gay karena ada beberapa sebab. “Orang bisa menjadi lesbi atau gay, faktornya bisa macam-macam, dan tentu berbeda-beda. Faktornya, mungkin dia pernah berhubungan seks dengan sesama jenis dan biasanya ketika dia mengalami hal itu, dia mendapat kenikmatan, akhirnya menjadi gay atau lesbilah dia. Selain dari faktor hubungan, bisa juga dari sananya dia sudah begitu. Kadang ada juga orang yang merasa dirinya perempuan, padahal dia adalah laki-laki yang biasa kita sebut dengan transeksual”.

Dalam kacamata Linda, cinta sejenis ini kan sebenarnya kan suatu kelainan kejiwaan dan gangguan secara genetis yang sulit untuk diubah. “Bisa dihubungkan dengan kromosom. Yaitu yang membawa sifat seseorang. Jadi ini disebut juga dengan kelainan-kelainan genetis, karena dia merasa ada sifat perempuan yang terkurung di dalam tubuh laki-laki, atau sebaliknya,” jelasnya.

Banyak faktor yang bisa diperdebatkan mengapa seseorang menjadi gay atau lesbian. Tapi itu bicara soal pilihan. Bukan semata soal penyimpangan. Anda bebas memilih berada di area mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: