Posisi-Posisi BERCINTA Paling Dahsyat

Saya menunjukkan dalam buku ini bagaimana seorang suami, dengan memberikan variasi bercinta kepada isterinya, hidup bersama dengan isterinya itu seperti layaknya hidup dengan 32 wanita yang berbeda, yang terus-menerus menikmati variasi bercinta dari isterinya, dan memberikan kepuasan yang tak terkira.
— Ahli seks abad 12, Kayana Malta dalam kitabnya Ananga-Ranga, sebuah buku panduan seks dari India.

Tiga puluh dua posisi seksual yang berbeda, yang digambarkan oleh Malta (yang disebutnya dengan istilah yang cukup menarik yaitu kenikmatan internal), sama sekali belum mendekati seluruh jumlah kemungkinan posisi bercinta yang ada. Pada kenyataannya, terdapat suatu tradisi lama yang berusaha menentukan jumlah keseluruhan posisi bercinta yang memungkinkan persetubuhan manusia — melalui sumber-sumber yang sama beragamnya dengan literatur erotis Sanskerta, Ovid dan pakar-pakar seks dari Arabia kuno. Kemungkinan tersebut sukar dipahami. Seorang pakar seks India pernah mencoba menghitung jumlah posisi bercinta dan hasilnya amat mengejutkan yaitu 529 posisi, namun jumlah ini dimungkinkan karena dia mempertimbangkan setiap perbedaan kecil (seperti sudut tangan atau kaki) sebagai satu posisi bercinta yang baru.

Bukan ini yang ingin kita bicarakan. Semua hal mengenai perhitungan posisi, yang kadang-kadang disebut “Kesalahan Kama Sutra,” tak lebih dari sekedar pengisi waktu luang. Masalah yang sebenarnya adalah bahwa kita semua cenderung terjebak ke dalam rutinitas-rutinitas seksual yang membosankan dan mengubah rutinitas-rutinitas seksual yang membosankan ini sungguh suatu gagasan yang bagus dan patut dicoba.

POSISI MISIONARIS
Mungkin masih terdapat beberapa orang yang konservatif, yang masih berkeyakinan bahwa posisi misionaris (berbaring berhadap-hadapan laki-laki di atas) adalah posisi satu-satunya yang benar dan seharusnya bagi persetubuhan, walaupun hal tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh binatang dan hanya kadang-kadang digambarkan dalam kesenian erotis kuno. (Lukisan yang dikenal paling kuno tentang persetubuhan manusia sudah ada sejak 3.200 SM dan ditemukan di penggalian kota Sumeria kuno (lembah Ur) di Mesopotamia menunjukkan posisi seorang wanita berada di atas). Dalam beberapa kebudayaan, posisi ini dianggap sangat aneh.

Seorang ahli antropologi yang amat santun, Bronislaw Malinowski, Ph.D., pernah menggambarkan bagaimana penduduk pulau Trobiand, sambil mengelilingi api unggun, menirukan posisi hubungan seksual yang dipakai oleh para anggota misi keagamaan yang mengubah kesedihan teman-temannya menjadi tawa yang tak tertahankan. (Penduduk di sana melihat bahwa posisi samudera atau oceanic position, yang digambarkan berikut ini, adalah satu-satunya posisi bercinta yang benar dan tepat).

Pada sisi lainnya, posisi misionaris memang posisi yang paling umum, paling tidak dalam kebudayaan kita, seperti pengamatan Dr. Alfred Kinsesy dalam penelitian-penelitian seksnya yang luar biasa di tahun 1940 dan 1950-an. Dia bahkan memperkirakan bahwa sebkitar 70% penduduk Amerika Serikat tidak pernah mencoba posisi lainnya. Dan posisi ini memang memiliki keuntungan-keuntungan.

“Ada saatnya di mana seorang laki-laki ingin mendominasi seorang wanita, ada saat dimana seorang wanita ingin ‘dikuasai’ oleh laki-laki,” demikian kata Jude Cotte, Ph.D., seorang psikolog dan ahli terapi seks di tempat praktek pribadinya di Farmington Hills, Michigan.

Dan jika tujuannya adalah kehamilan, di mana dalam posisi ini posisi vagina seperti mangkuk yang berdiri tegak, dengan demikian cenderung dapat menampung air mani. Namun posisi ini juga memiliki banyak kekurangan.

“Itu adalah posisi yang paling buruk bagi laki-laki karena dia harus menyangga berat badannya dengan otot-ototnya yang paling kecil dan paling lemah (punggung dan pundak) dan dengan posisi ini ia cenderung cepat lelah,” demikian kata Dr. Cotter. “Jika laki-laki jauh lebih berat daripada pasangannya, dia cenderung menghimpit pasangannya. Karena ia menggunakan tangannya untuk menyangga dirinya sendiri, dia tidak dapat menyentuh klitoris pasangannya secara langsung.”

Namun kekurangan terbesar adalah bahwa dengan posisi misionaris, klitoris wanita hanya bisa distimulasi secara tidak langsung oleh penis pasangannya sehingga sukar baginya untuk mencapai orgasme. Pada kenyataannya, dalam The Hite Report, peneliti Shere Hite melaporkan bahwa dari 1.884 wanita yang diteliti, hanya 30% yang melaporkan mencapai orgasme secara teratur pada saat persetubuhan — sebagian besar alasannya hampir dapat dipastikan karena popularitas posisi misionaris ini.

TEKNIK PENYELARASAN SENGGAMA
Bagi sebagian besar wanita, kunci untuk mencapai orgasme adalah stimulasi klitoris. Suatu cara untuk mengatasi kurangnya stimulasi klitoris adalah dengan menggunakan coital allignment technique (teknik penyelarasan senggama).

Alih-alih memasuki pasangannya secara langsung ketika menggunakan posisi misionaris, laki-laki “menunggangi pasangannya” dari sudut yang lebih tinggi sehingga tulang kemaluannya (permukaan yang keras tepat di atas batang penis) dapat memberikan tekanan secara langsung ke mons pasangannya (benjolan bulat di atas vagina, di mana terletak klitoris di bawahnya). Dengan mengatur irama yang lembut dan sesuai, laki-laki bisa menggoyang tulang kemaluannya maju mundur di atas klitoris pasangannya, dan bukan dengan terlalu memfokuskannya pada dorongan keluar masuk, sehingga pasangannya mendapat stimulasi tepat di tempat yang diinginkannya.

Wanita yang telah mempelajari teknik penyelarasan senggama mampu mencapai orgasme dengan lebih sering dan mendapatkan kenikmatan yang sangat memuaskan, serta lebih memungkinkan baginya untuk mencapai klimaks secara serentak dengan pasangannya, demikian kata para peneliti.

Penting untuk tetap melakukan tekanan terus-menerus dan stabil pada klitoris, demikian saran para peneliti yang telah mempelajari keuntungan-keuntungan posisi misionaris ini. Begitu laki-laki menghempaskan penisnya ke bawah, pasangannya harus melakukan tekanan kembali dengan mendorong ke depan tulang pingulnya. Juga, kedua pasangan harus membangun irama seksual yang sama baik dalam pola dan kecepatannya. Lakukan irama yang pelan, stabil dan tetap, setiap irama selaras dengan yang linnya, dan cobalah untuk mempertahankannya. Ada kecenderungan alamiah bagi laki-laki untuk menjadi lebih cepat begitu dia menjelang orgasme, sedang pada saat yang bersamaan wanita menjadi lebih lambat atau bahkan berhenti. Namun Anda harus mengatasi kecenderungan ini dan tetap bergerak dan mendorong pada langkah yang sama seperti pasangan anda, demikian nasihat para peneliti.

Laki-laki harus menumpukan seluruh berat tubuhnya pada tubuh pasangannya dan tidak menopang dirinya sendiri pada kedua sikunya. Kedua kakinya harus disilingkan ke sekeliling paha pasangan yang mengangkanginya, sementara kedua pergelangan kakinya bertumpu pada kedua betis pasangannya (menekuk lututnya lebih daripada itu tidak nyaman dan cenderung mengurangi gerakan dari tulang pinggul si wanita, lanjut mereka).

POSISI WANITA DI ATAS

Pada sisi lainnya, Anda selalu dapat menghindari posisi misionaris dan membiarkan pasangan Anda berada di atas. Beberapa orang merasa bahwa “tidak sepantasnya” seorang wanita berada pada posisi yang “lebih tinggi” karena itu menghina hak laki-laki atau menunjukkan homoseksualitas tersembunyi atau hal-hal yang tidak masuk akal lainnya. Namun, sebenarnya kenikmatanlah yang harus diutamakan. Anda mungkin mendapati bahwa posisi wanita di atas akan memberikan kepuasan pada kedua belah pihak. Biasanya, jika wanita berada di atas, dia akan jauh lebih mampu mengatur dengan baik stimulasi klitorisnya dan dengan demikian dapat mencapai orgasme (walaupun kadang-kadang mungkin lebih sukar bagi laki-laki untuk menjaga agar penisnya tidak keluar).

“Hanya posisi-posisi wanita berada di atas dan berhadapan yang memungkinkan stimulasi klitoris secara langsung atau tepat dapat dicapai dengan mudah,” demikian laporan yang dikeluarkan oleh William Masters, M.D., dan Virginia Johnson dari Masters and Johnson Institute di St. Louis, dalam buku mereka Human Sexuality Response. “Respon klitoris akan terjadi lebih cepat dan dengan intensitas yang lebih besar pada persetubuhan dengan wanita berada di posisi atas, dibandingkan dengan posisi-posisi lainnya.”

Ini merupakan cara yang sedikit resmi untuk mengatakan bahwa posisi itu dapat wanita mencapai apa yang mereka diinginkannya.

“Tidak diragukan lagi,” demikian kata Dr. Cotte, “posisi yang dipilih adalah wanita berada di atas. Ketika seorang wanita berlutut mengangkang di antara penis yang bereksi, mereka berdua dapat bertahan lebih lama. Si laki-laki tidak menjadi cepat lelah, demikian pula si wanita karena otot- otot terkuatnya yang menyangga berat tubuhnya. Kedua tangan si laki-laki bebas menstimulasi klitoris pasangannya. Laki-laki juga dapat melihat tubuh pasangannya, dan ini penting karena laki-laki terangsang oleh hal-hal yang bersifat visual dan inilah alasan mengapa harus ada sedikit sumber penerangan di dalam ruangan tempat bercinta.

Juga, tambah Dr. Cotter, pada posisi-posisi ini dimungkinkan diatasinya kesulitan-kesulitan ereksi. Jika laki-laki mengalami masalah bereksi, pasangannya dapat menggunakan “teknik jejalan” dengan cara menjejalkan penis yang semi-ereksi ke dalam vaginanya, pasangannya telah siap untuk menerima penetrasi. Jika seorang laki-laki mengalami masalah dengan ejakulasi prematur, ia akan bertahan lebih lama jika pasangannya berada di atas.

POSISI BERHADAPAN

Bercinta dengan posisi di mana laki-laki dan wanita berbaring berhadapan dan bersebelahan kadang-kadang disebut posisi Afrika karena posisi ini sangat banyak dipraktekkan di benua itu. Posisi ini memiliki keuntungan-keuntungan: Posisi ini sangat santai bagi kedua pasangan. Ia sangat baik ketika salah seorang pasangan sedang sakit atau tua. Selain itu, posisi ini berguna selama bulan-bulan terakhir kehamilan. Dan seperti posisi wanita berada di atas, posisi ini dapat membantu laki-laki bertahan lebih lama dibandingkan dengan posisi-posisi lainnya yang mengharuskan laki-laki berada di atas.

Juga, demikian tambah Dr. Cotter, “bagi banyak wanita ini adalah posisi yang lebih disukai karena ketika pasangannya bisa memeluk dirinya dengan satu tangan, mereka dapat tertidur dengan saling berpelukan setelah persetubuhan. Beberapa wanita berpendapat berpelukan setelah persetubuhan merupakan bagian yang paling meenyenangkan dari bercinta.”

PERSETUBUHAN DARI BELAKANG

Dalam sebuah buku panduan cinta kuno, The Perfumed Garden, penyair Tunisia Sheikh Nefzawi menggambarkan beberapa variasi bercinta di mana penetrasi penis dilakukan dari belakang (rear entry position) sebagai “tiruan perilaku biri-biri jantan.” Penduduk kepulauan Marquesan menyebut posisi ini sebagai “perkawinan kuda.” Semua perumpamaan binatang ini amat wajar karena persetubuhan lewat belakang sebenarnya umum diantara mamalia-mamalia lain, reptil dan burung.

Pada sebagian besar primata, betina yang sedang bergairah akan menyerahkan dirinya kepada jantan dengan memperlihatkan pantat-pantatnya dan bukan buah dadanya. Pada kenyataannya, seorang ahli ilmu hewan — dan juga seorang pengarang Desmond Morris, Ph.D., dalam bukunya The Naked Ape, menunjukkan bahwa wanita adalah satu-satunya primata yang payudaranya membesar secara permanen. Hal tersebut mungkin, demikian dia menyimpulkan, untuk membangkitkan kenangan lama atas pantat-pantat yang menggairahkan dan mengundang itu.

Persetubuhan lewat belakang mungkin tampak sedikit jorok dan seperti binatang, justru di sinilah terletak daya tariknya. Namun, posisi ini memiliki keuntungan-keuntungan praktis lainnya seperti fakta bahwa posisi ini dapat dilakukan pada kehamilan tua. Ini adalah suatu posisi dimana seorang laki-laki mungkin dapat melakukan penetrasi terdalamnya. Dan banyak wanita yang memiliki G-Spot yang sangat sensitif terhadap rangsangan seks, yang terletak di depan dinding atas vgina-vagina mereka, mengatakan bahwa tempat terebut paling mudah dicapai dengan posisi ini.

Kelemahan posisi ini adalah bahwa kadang-kadang sukar bagi seorang laki-laki untuk tetap mempertahankan penisnya di dalam vagina pasangannya. Kadang-kadang laki-laki khawatir bahwa pasangan mereka mungkin mengira kalau dirinya seorang homoseksual sehingga merasa tidak sreg dengan posisi ini, kata Dr. Cotter. Namun pada kenyataannya, kelemahan terbesar dari posisi ini adalah kurangnya stimulasi klitoris pada posisi masuk dari belakang ini (walaupun si wanita dapat membantu dengan tangan-tangannya sendiri).

BEBERAPA VARIASI EKSOTIS
Sebenarnya, demikian kata Dr. Cotter, posisi yang paling baik dari semua posisi adalah posisi yang tidak kita gunakan dalam kebudayaan kita karena kita tidak bisa.

Si wanita berbaring dengan kedua lututnya diangkat dan laki-laki memasukinya sambil berjongkok di antara kedua kaki pasangannya seperti seorang “penangkap bola baseball.” Dalam kebudayaan-kebudayaan tertentu, orang-orang yang terbiasa jongkok bisa memperpanjang persetubuhan dalam posisi ini, namun kita yang terbiasa duduk di kursi, mungkin akan merasa posisi ini sangat tidak nyaman, demikian kata Dr. Cotter. Posisi tersebut adalah posisi yang kadang-kadang disebut posisi samudra yang disenangi oleh banyak penduduk daerah samudera Pacifik (temasuk mereka yang berpendapat bahwa posisi misionaris adalah posisi yang sangat lucu).

Di pulau-pulau Truk di Micronesia, suatu variasi lainnya kadang-kadang dilakukan, demikian tulis seorang ahli antropologi Edgar Gregersen, Ph.D., dari City University of New York, dalam bukunya Sexual Practises “laki-laki duduk di lantai dengan kedua kakinya terbuka lebar, serta direntangkan ke depan. Sementara si wanita berlutut di depannya. Ia meletakkan kepala penisnya tepat di dalam lubang vagina pasangannya. Tapi ia tidak benar-benar memasukkan penisnya, melainkan menggerakkannya naik-turun dengan tangannya dengan tujuan menstimulasi klitoris pasangannya. Ketika mereka hampir mencapai klimaks, laki-laki menarik si wanita ke dekatnya dan pada akhirnya benar-benar memasukkan seluruh penisnya.”

POSISI DUDUK

Seni atau literatur yang menggambarkan percintaaan dalam posisi duduk, cukup jarang di kebudayaan-kebudayaan lain, walaupun orang Cina khususnya sangat sering menggambarkan persetubuhan yang berkenaan dengan seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi, demikian menurut Dr. Gregersen. Walaupun mereka mungkin agak tidak nyaman, posisi-posisi duduk memiliki keuntungan bagi seorang laki-laki agar tidak mengeluarkan banyak tenaga dan mungkin membantunya menunda ejakulasi.

POSISI BERDIRI
Pada sebagian besar kebudayaan-kebudayaan di manapun, posisi-posisi berdiri dikaitkan dengan persetubuhan yang singkat dan tidak layak, demikian menurut Dr. Gregersen. Sheikh Nefzawi menggambarkan satu variasi yang disebut driving the peg home di mana sang wanita melingkarkan kedua kakinya di sekeliling pinggang sang laki-laki, sementara kedua lengannya dilingkarkan di sekeliling leher pasangannya dan si wanita bersandar di tembok untuk mengukuhkan posisi mereka. Kama Sutra menggambarkan suatu variasi lainnya yang disebut avalambitaka atau suspended congress (persetubuhan menggantung). Si laki-laki berdiri, bersandar ke tembok, sang wanita duduk di kedua tangan pasangannya yang tergenggam sambil menghadap ke arahnya dan menggepit pinggang pasanganya itu dengan pahanya, sementara kedua lengannya melingkar di leher laki-laki di depannya. Wanita bergerak seraya mendorongkan kedua kakinya ke dinding yang menyangga pasangannya.

Jelas bahwa posisi ini (lantaran potensi erotisnya) hendaknya hanya dilakukan dengan hati-hati karena membutuhkan kekuatan, kelenturan dan punggung bawah yang kuat).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: