ANAL VS ORAL SEKS: PERSETERUAN DUA KENIKMATAN

RIHANA, 26, lajang dan marketing di sebuah perusahaan besar di Jakarta, hanya tersenyum ketika ditanya pilihan orientasi seksualnya, anal seks atau oral seks. “Saya lebih bisa menikmati oral seks,’ jawabnya. Kalau anal seks? “Nggak nyaman melakukannya,” tambahnya, tanpa menjelaskan kenapa tidak nyaman.

Sementara Tika, 35, seorang aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat di Jakarta yang sudah menikah, mengaku kini coba-coba melakukan anal seks. “Ternyata sensasinya tidak kalah seru,” ucap perempuan yang kerap melakukan perjalanan ke luar negeri ini sembari terkekeh.  Tika mengatakan, mencoba anal justru karena request dari pasangannya.  “Sebelumnya saya tidak pernah melakukannya, karena saya anggap itu hanya kelakuan homokseksual saja,” ujarnya jujur.

Sampai saat ini, anal seks dan oral seks memang menjadi pilihan banyak pasangan untuk menemukan sensasi bercinta yang berbeda. Konon, dua aktivitas ‘sensasional’  ini bisa membuat mereka yang melakukannya ketagihan. Benarkah, seserius itu efeknya?

Meski rasanya ‘menggetarkan’ tapi sebenarnya masih banyak orang yang bertanya-tanya, apa sebenarnya oral dan anak seks itu? Tak cuma melulu persoalan kenikmatan melakukannya, tapi juga bagaimana korelasinya dengan kesehatan.

Dalam konteks heteroseksual, seks oral digunakan oleh beberapa pasangan sebagai metode kontrasepsi dan dapat dipilih sebagai alternatif untuk melakukan variasi melakukan hubungan seksual. Oral seks sering juga disebut cunnilingus. Cunilingus berasal dari bahasa Latin cunnus yang berarti vulva (organ seks luar wanita), dan lingere yang berarti menjilat. Felasio berasal dari bahasa latin fellare yang artinya menghisap.

Cunilingus dan felasio adalah perilaku seks yang umum dilakukan oleh pasangan yang berjenis kelamin sama maupun pasangan yang berlawanan jenis. Ada banyak kombinasi posisi dan teknik yang digunakan dalam seks oral, tetapi tetap mulut dan lidah yang memberikan kepuasan dalam hal ini. Mencium, menjilat, menghisap dan menggigit bisa terasa nikmat di bagian manapun pada organ genital pria dan wanita.

Merujuk pada penelitian yang pernah dilansir di majalah TIME September tahun 2005, di Amerika Serikat dari sekitar 12 ribu orang berusia 15 sampai 44 tahun yang disurvei, setengahnya mengaku sering atau sudah pernah melakukan oral seks.  Biasanya cuninglingus dilakukan sebagai tahap awal sebelum benar-benar melakukan making-love.

Dalam beberapa literature, oral seks sudah ditemukan sejak zaman Roma kuno.  Di masa itu, oral seks dianggap sebagai perbuatan yang tabu dan hina. Mereka yang ketahuan melakukannya bisa dikucilkan secara social. Kemudian di era Taoisme di Cina, oral seks justru dianggap sebagai aktivitas ‘rohani’ yang salah satu tujuannya supaya awet muda.  Di negara barat, oral seks awalnya juga menjadi topik yang ‘tidak pantas’ meski seiring perkembangan waktu, negara barat juga makin permisif dengan cunnilingus.

Tidak sedikit yang menganggap seks oral menjadi simbol revolusi kebebasan seksual. Wanita modern lebih afirmatif terhadap seks oral dibandingkan dengan wanita di era tradisional. Bagaimanapun penis merupakan sebuah benda yang kotor, karena selain sebagai alat berhubungan seks juga alat pembuangan. Namun dalam seks, seks oral telah menjadi sebuah bentuk interaksi natural, wanita tidak merasa jijik dan menanggapi seks oral sebagai kegiatan yang perlu dilakukan untuk menciptakan suasana romantis dan penuh birahi.

Sayangnya, oral seks juga tidak benar-benar steril dari penyakit. Hubungan seksual semacam ini sangat beresiko tinggi dilihat dari segi kesehatan. Karena di dalam mulut terdapat bakteri-bakteri yang mengandung garam bermuatan positif.  Sedangkan pada alat kelamin, banyak terdapat bakteri-bakteri yang mengandung garam bermuatan negatif.

Aktivitas seksual lewat mulut-mulut atau mulut-kelamin, sama-sama beresiko tinggi untuk perpindahan kuman dan bakteri penyakit. Apalagi jika ditambah dengan si pelakunya kurang menjaga kesehatan bagian-bagian tubuh yang bersangkutan.

Banyak yang mencoba, menyukainya. Tetapi yang lain memberikan beberapa komentarnya. Komentar-komentar ini bisa dibagi ke dalam tiga hal umum: pertama, bahwa seks oral itu tidak higienis; kedua, bahwa tabu untuk melakukannya; tiga, bahwa seks oral bukanlah ungkapan suatu kejantanan ataupun feminitas.

Dari segi higienis, seks oral, baik cairan semen (air mani) maupun cairan vagina sebenarnya tidak berbahaya. Ini tentu saja tidak berbahaya bagi mereka yang tidak terkena penyakit menular seksual (PMS atau PHS). Setiap orang harus memastikan bahwa dirinya dan pasangannya bebas dari PMS sebelum melakukan hubungan seksual. Tidak ada penyakit yang ditularkan melalui seks oral yang tidak bisa ditularkan melalui seks dalam bentuk lainnya. Jika seseorang mengidap PMS maka pasangannya kemungkinn akan tertular apapun bentuk hubungan seks yang mereka lakukan. Singkatnya, hubungan seks di antara pasangan yang sehat adalah aman dan bersih.

HAL lain yang membuat orang ‘malas’ melakukan oral seks adalah banyak yang merasa ‘terganggu’ dengan aroma alat kelamin, baik perempuan atau laki-laki. Meski disarankan untuk membersihkan alat kelamin dahulu, tapi tetap saja ada yang mengganjal.

Kemudian munculnya anggapan-anggapan bahwa oral seks adalah hal yang tabu, juga masih kuat mengakar. Hal itu membuat sebagian orang enggan dan memilih melakukan seks secara konvensional saja. Belum lagi kalau bicara larangan agama, seringkali merasa bersalah dan berdosa ketika ‘nekat’ melakukannya, meskipun mereka tahu bahwa hubungan seks dengan cara ini adalah aman dan suatu bentuk ekspresi seksual yang wajar.

Berbeda dengan oral, praktek anal menemui ‘rintangan’ yang lebih pelik. Seks anal adalah hubungan seksual di mana penis yang ereksi dimasukkan ke rektum melalui anus. Selain itu penetrasi anus dengan dildo, butt plug, vibrator, lidah, dan benda lainnya juga disebut anal seks. Anal seks dapat dilakukan oleh orang heteroseksual maupun homoseksual.

Yang menarik, ada dua sudut pandang yang berbeda dari negara Asia dan Eropa. Ini terbukti dalam sebuah riset yang dilakukan di Perancis dan Korea Selatan.  Di Perancis, tahun 2001 dari sekitar 500 responden perempuan, 29 % mengaku melakukan anal seks dengan pasangannya. Prosentase ini berbeda cukup jauh dengan perempuan di Korea Selatan tahun 1999,  dari 586 responden, hanya 3,5% saja yang mengatakan mencoba anal seks dengan pasangannya.  Artinya, orang Asia—termasuk Indonesia pastinya—masih menganggap anal seks sebagai aktivitas yang kurang diminati.

Banyak yang kadang menghubungkan anal seks dengan sodomi. Merunut sejarahnya, istilah itu dianalogikan dengan kisah hancurnya dua kota ‘maksiat’ Sodom dan Gomorah. Di beberapa buku dan kitab, kota itu dihancurkan karena masyarakatnya yang sudah terlalu jauh menyimpang, salah satunya melakukan anal seks itu.

Tak banyak perempuan suka melakukan anal seks. Kalaupun ada yang pernah mencoba, maka kemudian sedikit sekali yang ingin mengulanginya kembali, karena alasan rasa sakit. Selain itu anal seks juga masih dianggap tabu dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang suka berpetualang di atas ranjang.

Mengutip pernyataan Agnes, 24, seorang marketing asal Yogyakarta. “No anal! Jorok!” katanya tegas.  Agnes yang mengaku sebagai pelaku seks aktif, selalu menolak ajakan untuk anal seks dari pasangannya.  “Saya tidak bisa melakukannya, karena tidak pernah bisa menikmati. Kalau memang pasangan saya memaksa, saya memilih tidak melakukannya sama sekali,” jelas perempuan berkulit cokelat ini.

Tidak mudah menguasai anal seks bagi mereka yang belum pernah mencoba sebelumnya. Bagi pria mungkin hanya terkesan seperti ‘keluar dan masuk’ serta gerakan ‘maju atau mundur’ saja.

Bagi yang menyukai anal seks, mereka mengatakan rasanya ‘konon’ luar biasa berbeda. Sensasi yang dirasakan berbeda dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Terasa dalam, meskipun sensasi bukan muncul pada klitoris atau pada Mrs V, tetapi terasa sangat berbeda di antara kombinasi yang aneh pada bagian tubuh. Rectum atau dubur akan menelan Mr Dick, dan pada saat yang sama Anda masih bisa mengeksploitasi klitoris dan Mrs V.

Kemudian anal seks adalah salah satu hal pribadi yang bisa Anda lakukan dengan pasangan. Bisa saja anal seks adalah yang pertama bagi Anda dan pasangan, sehingga akan sangat menyenangkan bila sama-sama mencoba suatu hal yang nakal untuk pertama kali.

Tapi semuanya tak semudah itu. Perempuan membenci anal seks karena menyakitkan. Bisa menyebabkan mereka keringat dingin, menggigil, serta nyeri yang luar biasa. Sangat tidak menyenangkan bagi perempuan, tapi ia akan menahan rasa itu demi pasangannya.

Jorok?  Memang ada beberapa resiko ketika Anda melakukan anal seks. Anus dan dubur yang tidak bersih cukup menyimpan bakteri dan penyakit yang bisa mengerogoti tubuh Anda. Termasuk didalamnya korelasi dengan pencernaan karena terdapat berbagai infeksi bakteri. Dubur adalah rumah bagi banyak infeksi bakteri yang dapat menyebabkan pembakaran dan urethritis dari penis.

Kondom disarankan ketika melakukan anal seks. Disarankan untuk melindungi dari goresan dari fingernails dan kulit kasar yang bisa mengakibatkan infeksi. Anal seks dilakukan, juga karena banyak orang yang ingin sedikit “nakal” dengan pasangannya. Mereka –entah hetero atau homokseksual– ingin mencicipi sensasi yang mungkin belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Yang perlu diperhatikan, rangsangan sebelum melakukan anal seks, tidak menghasilkan pelumas seperti ketika penetrasi pada vagina. Anda dianjurkan untuk menggunakan pelumas berkualitas baik sebelum memulai petualangan anak Anda. Berani berpetualang? [djoko moernantyo]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: